Thursday, May 23, 2019

Tidak Suka Buah

Di sekolah:

Ibu: "Nak, ini ibu bawakan semangka. Nanti saat jam istirahat, dimakan ya semangkanya."

Anak: "Yah, Mama... Adek nggak suka semangka. Adek maunya pisang."

Biarpun mengeluh, adek tetap membawa kotak makanannya ke kelas. Tapi... saat pulang, ibunya melihat bahwa semangkanya hanya dimakan sepotong.

Sehari sebelumnya di rumah:

Nenek: "Nak, tadi ibu potong pepaya. Ayo dimakan. Pepaya bagus buat pencernaan."

Ibu: "Ah, ibu.. aku nggak suka pepaya, lho."

Ibu si anak tadi tetap memakan pepaya yang dipotongkan oleh neneknya si anak walaupun cuma satu atau dua potong.

* * *

Anak adalah peniru ulung, lho!

Tuesday, May 21, 2019

Perokok Itu...

Tadi di jalan lihat ada motor yang di belakangnya ditempeli stiker:

Orang yang merokok adalah orang yang setia.
Korek apinya hilang aja dicariin.
Apalagi kamu.

Boleh dong nambahin kayak gini:

Orang yang merokok tuh nggak ngerepotin
Kamu nggak perlu repot-repot masak
Cukup beri rokok aja dia sudah senang

Orang yang merokok adalah orang yang nggak pelit
Asap rokoknya aja dibagi-bagi ke orang yang nggak kenal
Apalagi ke kamu

Orang yang merokok adalah orang yang senang berbagi
Kalau dia sakit paru-paru akibat asap rokoknya
Kemungkinan besar kamu juga akan ikut kena sakit paru-paru
Dan kalaupun dia nggak kena sakit paru-paru
Kamu tetap bisa kena sakit paru-paru
Karena asap rokoknya kamu hirup

Karena hidup terasa lebih indah dengan berbagi

Tapi....
Aku nggak suka dekat-dekat orang yang merokok
Karena aku nggak mau kena sakit paru-paru

Kalau kamu mau, ya terserah kamu
Hidup adalah pilihan
Dan setiap pilihan ada resikonya

Wednesday, May 8, 2019

Saling Menghargai dan Menghormati

Mimi: "Kenapa harus selalu kita yang menghargai dan menghormati orang lain? Kenapa ada orang-orang yang selalu mau seenaknya saja?"

Mitu: "Karena kita orang kecil. Jadi kita harus selalu menghargai dan menghormati orang besar."

Mimi: "Tapi... bukankah kita diajarkan untuk menghargai dan menghormati siapa saja tanpa memandang statusnya apa?"

Mitu: "Iya. Seharusnya memang begitu. Biarkan saja kalau ada yang nggak menghargai dan menghormati kita. Yang penting kita tetap menghargai dan menghormati orang lain."

Mimi: "Tapi... Seharusnya semua orang saling menghargai dan menghormati, kan?"

Mitu: "Iya. Hanya saja, ada yang merasa dirinya besar sehingga yang lain jadi tak tampak. Biarkan saja. Nanti dia terima akibatnya. Tetaplah menjadi orang baik."

Mimi: "Oke."

Monday, April 1, 2019

Kue Mochi

Mimi: "Kamu tau kue mochi?"

Mitu: "Iya. Kenapa?"

Mimi: "Kamu suka kue mochi yang dalamnya isi apa? Kacang? Durian? Coklat?"

Mitu: "Hmmm.... Aku suka kulit mochinya aja. Nggak suka isinya."

Mimi: "Hahaha..." 😅

Tuesday, December 25, 2018

Saat Kau Panggil Namaku

Mimi: "Hari ini sebagian besar orang di dunia memanggil-manggil namaku. Duh, senangnya...."

Mitu: "Ah, yang bener?"

Mimi: "Iya, serius! Lagu-lagu Natal itu... Salah satunya ada namaku di sana."

Mitu: "Oooh, oke, deh! Percaya. Trus apa artinya itu?"

Mimi: "Kemuliaan kepada Allah di tempat tinggi."

Mitu: "Oh, begitu...."

Mimi: "Ehm! Sebenarnya aku agak risih karena namaku disebut-sebut. Dan itu juga karena aku bukan umat situ. Tapi namaku identik dengan agama itu."

Mitu: "Iya... Apa boleh buat. Sudah tercatat di akta lahir, kan? Di KTP juga. Trus semua ijazah dn surat-surat lainnya."

Mimi: "Betul! Makanya buat siapapun yang mau punya anak, berilah nama anak yang benar. Kalau bisa jangan yang berbau-bau agama orang lain sebagus apapun nama itu. Kalau agamamu A nggak apa-apa memberi nama anakmu sesuai agama A. Kan kasihan nanti anaknya saat dia sudah besar."

Mitu: "I feel you. Sabar aja. Kan kamu ada nama panggilan lain yang nggak berbau nama agama itu."

Mimi: "Iya, Mit. Makasih ya."

Friday, November 30, 2018

Yang Diselamatkan Terlebih Dahulu

Mimi: "Saat lagi mengendarai motor lalu kehujanan, kamu tahu barang apa yang aku selamatkan terlebih dahulu?"

Mitu: "Hape!"

Mimi: "Salah! Tebak lagi!"

Mitu: "Pakaian! Langsung pakai jas hujan!"

Mimi: "Salah! Ayo, satu tebakan lagi!"

Mitu: "Tas!"

Mimi: "Salah juga! Haha!"

Mitu: "Jadi apa jawabannya?"

Mimi: "Sepatu! Cepat-cepat masukin kantong kresek trus ganti sama sandal jepit!!"

Mitu: "Halaahh! Mentang sepatu baru! Disayang-sayang. Coba kalau sudah basi. Emang masih peduli?"

Mimi: "Hahahahaha!"

Sunday, November 18, 2018

Kenapa Ada Orang Kaya Sombong?

Mimi: "Kenapa ada orang kaya yang sombong?"

Mitu: "Karena dia punya kekayaan yang bisa disombongkan."

Mimi: "Tapi... orang sombong kan tidak disukai siapa pun. Aku nggak suka berteman dengan orang sombong."

Mitu: "Mereka nggak peduli lo suka atau nggak. Toh mereka punya kekayaan. Memangnya siapa elo?"

Mimi: "Tetep aja nggak boleh gitu kan.. Kalau nggak kaya lagi gimana?"

Mitu: "Sepertinya itu hal yang tak terpikirkan oleh mereka yang sombong. Selagi mereka punya 'sesuatu', mereka merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain."

Mimi: "Dan setelah mereka tidak lagi punya 'sesuatu', mereka akan menjadi kecil?"

Mitu: "Nggak ngerti ah. Pokoknya kalau kamu kaya jangan jadi orang sombong!"

Mimi: "Betul! Nggak ada yang suka sama orang sombong."